fAce dA MuSIc...
Rabu, 16 Desember 2009
Ich fand es in einem Blog
Semoga sedang menapak TINGGI..
Apakabar CINTA?
Semoga sedang tidak MENDUA..
Apakabar HATI?
Semoga sedang tidak MATI..
Label: Islam
Minggu, 06 Desember 2009
Dinar & Dirham
Ternyata di sana lagi ada pasar Islam. Yang dijual macem-macem, kerudung dan pernak-perniknya, baju, madu, buku, makanan. Seorang teman tertarik dengan kerudung yang di jual di sana. Tadinya sih kita cuman lewat doang, tapi ternyata dia bener-bener pengen, jadinya kita balik lagi deh.. Hee..
Setelah liat-liat dan pilih-pilih, akhirnya dapat yang warna hijau turqoise sama merah fanta seharga 30 ribu. (duh, murah. . .) Uniknya, kita nggak bisa bayar langsung dengan uang 30 ribu. Kita harus tukar dulu uang kita di depan pasar dengan dinar dan dirham! Wow, kirain dinar ama dirham tuh cuman eksis di zaman Rasul doang. Yah, paling banter sekarang cuman di pakai di negara-negara timur tengah sana.
Ternyata nggak..!
Di tempat penukaran, kita dijelasin dulu apa itu dinar dan dirham, mengapa memakai uang itu dan apa kelebihannya di bandingkan dengan uang biasa.
Uang emas dan perak yang dikenal dengan Dinar dan Dirham digunakan sejak awal Islam, baik untuk kegiatan muamalah maupun ibadah (zakat, diyat) sampai berakhirnya kekhalifahan Usmaniah Turki tahun 1924.
Standardisasi berat uang Dinar dan Dirham mengikuti Hadits Rasulullah SAW, "Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah takaran penduduk Madinah" (HR. Abu Daud).
Dinar adalah uang emas 22 karat 4.25 gram. Standar hubungan berat antara uang emas dan perak dibakukan yaitu berat 7 Dinar sama dengan berat 10 Dirham. Maka dapat pula dihitung berat 1 Dirham adalah 7/10 x 4.25 gram atau sama dengan 2.975 gram.
Selain emas dan perak, baik di negeri Islam maupun non Islam juga dikenal uang logam yang dibuat dari tembaga atau perunggu. Dalam fiqih Islam, uang emas dan perak dikenal sebagai alat tukar yang hakiki (thaman haqiqi atau thaman khalqi) sedangkan uang dari tembaga atau perunggu dikenal sebagai fulus dan menjadi alat tukar berdasar kesepakatan atau thaman istilahi. Dari sisi sifatnya yang tidak memiliki nilai intrinsik sebesar nilai tukarnya, fulus ini lebih dekat kepada sifat uang kertas yang kita kenal sampai sekarang .
Emas dan perak adalah mata uang paling stabil yang pernah dikenal. Sejak masa awal Islam hingga hari ini, nilai mata uang Islam dwilogam itu secara mengejutkan tetap stabil dalam hubungannya dengan barang-barang konsumtif. Seekor ayam pada zaman Nabi Muhammad SAW harganya satu dirham. Hari ini, 1400 tahun kemudian, harganya kurang lebih satu dirham. Dengan demikian, selama 1400 tahun, inflasi adalah nol.
Pas iseng-iseng nyari info tentang Dinar-Dirham di internet, ternyata sekarang ini sudah banyak yang tertarik untuk menginvestasika hartanya dalam bentuk Dinar dan Dirham ini. Selain itu, juga banyak yang berpendapat bahwa Dinar-Dirham ini baik untuk menunjang perekonomian, menjaga kestabilan ekonomi, mengurangi ketergantungan ekonomi kita pada negara Amerika dan yang terpenting mengikuti syariat Islam.
Minggu, 27 September 2009
Idul Fitri 1430H
Malam itu selepas maghrib, suara takbir terdengar, saling bersahutan, membawa tenang di hati. Juga memberi rasa sedih karena Ramadhan telah usai. Rasanya begitu cepat berlalu.
Pikiran melayang ke satu bulan yang telah lalu, apa yang telah diperbuat? Amal apa yang telah dikerjakan? Apakah puasa selama satu bulan itu diterima, atau hanya berharga lapar dan dahaga saja? Berhasilkah meraih bonus-bonus yang dijanjikan Allah di bulan yang sangat mulia itu? Apakah Ramadhan tahun ini lebih baik daripada tahun sebelumnya?
Tanpa sadar, pikiran pun melayang, membanding-bandingkan masa yang telah lalu..
Saat masih duduk di bangku sekolah, mulai dari TK sampai SMA, bagi saya itu adalah masa Ramadhan yang paling menyenangkan. Ada kegiatan pra-Ramadhan, yang membantu kita mengingatkan akan datangnya bulan suci itu. Pada saat bulan puasa, kita mendapatkan tambahan ilmu agama dan siraman rohani. Ada tugas tambahan selama satu bulan itu, misalnya mendengarkan ceramah atau shalat tarawih atau mengajar ngaji. Mungkin memang terpaksa, tapi setelah usai tentu membawa hikmah tersendiri.
Ketika sudah berada di dunia kampus, nyaris tak terasa suatu perubahan ketika Ramadhan menjelang. Hampir melewatkan begitu saja hari pertama, seandainya tidak diingatkan keluarga. Saat berpuasa, hanya tidak makan siang sajalah yang membedakan dengan hari-hari biasa. Malam yang diharapkan sebagai waktu ibadah, diisi dengan kegiatan-kegiatan duniawi. Berlatih biola untuk mini konser (saat tahun pertama), mengerjakan pr dan tugas kuliah yang menggila, dan untuk tahun ini, tugas sonic.
Tidak bermaksud menyalahkan orang lain, sebenarnya diri inilah yang kurang tegas, kurang memperjuangkan pahala-pahala yang sejatinya mampu diraih. Menunda shalat maghrib hingga hampir masuk waktu isya, dengan alasan forum belum dibubarkan. Tidak menyegerakan berbuka, padahal bisa saja membawa minum dari rumah, apalagi hal itu sudah sering terjadi. Pr, tugas dan badan yang letih menjadi alasan untuk tidak melaksanakan shalat tarawih dan bertadarus.
Saya merasa malu. Malu pada Allah. Malu pada keluarga. Malu pada ustadz-ustadzah. Dan malu pada diri sendiri, pada diriku tahun-tahun yang lalu.
Ada yang berkata, mencoba menghibur. Semua kegiatan sosial yang kami lakukan, pada bulan Ramadhan ini, kegiatan yang bertujuan baik, semoga Allah menilainya sebagai ibadah dan memberi balasan...
Semoga kita semua bisa bertemu lagi dengan bulan Ramadhan yang akan datang. Semoga bisa lebih baik lagi di Ramdhan yang akan datang. Semoga bisa menyeimbangkan antara dunia dan akhirat...
Amin. . .


